Peminum Bergelar Waliyullah

Kontributor: Romlah

Pada zaman dulu hiduplah seorang tua yang di kenal dengan panggilan buju’ hara, beliau bertempat tinggal di desa morombuh kecamatan kwanyar kabupaten bangkalan. setiap ulama’ pilihan allah pasti mempunyai karomah dan keistimewaan tersendiri seperti halnya buju’ hara, salah satu keistimewaan beliau adalah beliau mampu memancarkan cahaya dari telapak tangannya.tapi di balik semua itu ada sebuah kisah yang mana membuat masyarakat sekitar,para ulama’dan yang lainnya bertanya-tanya atas perilaku buju’ hara.

Buju’hara adalah seorang tua yang tidak hanya di kenal sebagai waliyullah tapi juga di kenal dengan panggilan ulama’ yang suka minum-minuman keras, setiap hari kerjaannya adalah meminum minuman keras, setiap kali beliau haus minuman keras itu yang menemaninya, sehingga beliau menaruh sebotol minuman keras di setiap sudut rumahnya,di perempatan jalan dan dimanapun yang beliau kehendaki. Setiap orang dan tetangga selalau membicarakan perilaku beliau yang tidak mencerminkan perilaku seorang ulama’ tapi Buju’ hara tidak pernah menghiraukan cemohan,gunjingan dan apapun yang orang-orang katakan tentang beliau. pernah suatu hari beliau mendengar seseorang sedang membicarakanya’’mengapa buju’ hara itu berprilaku seperti itu,mengapa beliau suka minum-minuman keras padahal beliau itu adalah waliyullah yang telah dipilih tapi perilaku beliau tidak mencerminkan perilaku seorang ulama?’’. Mendengar hal itu buju’ hara hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan mereka. Karena sesungguhnya mereka itu tidak tahu maksud dan tujuan atas apa yang buju’ hara lakukan. Baca lebih lanjut

Macan Putih Dari Blega

Kontributor: Hilmia

Meskipun memiliki banyak catatan sejarah, mulai dari peperangan antar suku hingga perjuangan melawan penjajahan, kenyataannya tak banyak situs-situs bersejarah yang terdapat di kecamatan Blega. Kondisinya pun sudah tak terawat dan tidak layak dijadikan sebagai situs sejarah. Peran Pemerintah pun minim di bidang ini, sehingga menjadikan tempat-tempat bersejarah di Madura seakan tak terurus. Ketika kesadaran dan kecintaan akan daerah sendiri itu muncul, maka yang dapat dilakukan adalah mulai melestarikan situs yang ada, mengembangkan serta mempromosikannya ke luar daerah untuk membuktikan bahwa daerah mereka sendiripun turut menjadi saksi atas kejadian-kejadian historis di  masa lalu.

Salah satu tempat bersejarah di kecamatan Blega ialah Makam Agung Pangeran Macan Putih yang berlokasi di Kampung Karang Kemasan. Makam tersebut merupakan makam seorang patih dari kerajaan Blega yakni Patih Macan. Baca lebih lanjut

Kampung Bangtemuran

Kontributor: Anisah

Cerita tentang rakyat Bangtemuran yang terletak dikecamatan Blega kabupaten Bangkalan, yaitu kampung Bangtemuran adalah salah satu desa yang kecil yang bermula dari berdirinya kecamatan Blega setelah wafat nya prato (ki lemah duwun) kerajaan Arosbaya di ganti oleh putranya yaitu pangeran tengah pada tahun 1592-1620, di Blega yang terjadi raja pangeran yaitu pada tahun 1624.

Dikisahkan antara pangeran Tengahan (Pangeran Arosbaya) dan pangeran Blega terjadi kesalah pahaman diantara mereka berdua diwaktu mereka masih Populer, timbulnya masalah itu hanya masalah sepele, yaitu telat membayar Upeti karna waktu itu pangeran Blega masih di bawah pemerintahan pangeran Arosbaya, yang sudah menjadi kewajiban pangeran Blega setiap tahun membayar upeti kepada raja Arosbaya, dan diwaktu tahun barikutnya pangeran Blega terlambat lagi untuk membayar upeti sehingga ada utusan dari pangeran tengah menagih uang upeti tersebut. Baca lebih lanjut

Asal Usul Pulau Gili Raja

Kontributor: Ach. Syauqi

Madura adalah salah satu pulau yang ada di jawa timur indonesia, madura terdiri dari empat kabupaten, Bangkalan, yaitu kabupaten yang paling barat, sampang, pamekasan, terahir kabupaten sumenep yaitu kabupaten paling timur, sekaligus kabupaten yang paling banyak pulaunya di bandingkan dengan kabupaten  yang  lain, pulau-pulau di sumenep yaitu pulau Ra’as, pulau Kangeyan, pulau Poteran, pulau Gili Genting, pulau Gili Raja dan Gilingan.

Tidak banyak yang tahu, tentang asal usul pulau Gili Raja termamasuk orang orang yang menempati pulau Gili Raja sendiri,  begitu juga dengan Nenek moyang yang ada di pulau tersebut tidak akan tahu tanpa melalui data-data yang kongkrit dan akurat tentang asal usul pulau Gili Raja. Hanya ada kisah  menarik yang pernah di ceritakan oleh para sejarawan kepulauan, bahwa pulau Gili Raja bersal dari hewan yang bernama ”BUAYA”. Baca lebih lanjut

Asal Mula Daerah Omben Sampang

Kontributor: Zahrotul

Diceritakan dalam sejarah Madura bahwa cucu Bukabu mempunyai anak bernama Dewi Saini alias Puteri Kuning (disebut Puteri Kuning karena kulitnya yang sangat kuning) Kesenangannya bertapa. Dengan perkawinan batin dengan Adipoday (suka juga bertapa) putera kedua dari Penembahan Blingi bergelar Ario Pulangjiwo, lahirlah dua orang putera masing-masing bernama Jokotole dan Jokowedi.

Kedua putera tersebut ditinggalkan begitu saja dihutan, putera yang pertama Jokotole diambil oleh seorang pandai besi bernama Empu Kelleng didesa Pakandangan dalam keadaan sedang disusui oleh seekor kerbau putih, sedangkan putera yang kedua Jokowedi ditemukan di pademawu juga oleh seorang Empu.

Kesenangan Jokotole sejak kecil ialah membuat senjata-senjata seperti, keris, pisau dan perkakas pertanian, bahannya cukup dari tanah liat akan tetapi Jokotole dapat merubahnya menjadi besi, demikian menurut cerita. Pada usianya yang mencapai 6 tahun bapak angkatnya mendapat panggilan dari Raja Majapahit (Brawijaya VII) untuk diminta bantuannnya membuat pintu gerbang. Baca lebih lanjut

Asal Mula Desa Banyuajuh

Kontributor: Siti Homsah

Pada pulau madura ini banyaklah wilayah-wilayah atau desa-desa terpencil yang beraneka ragam. Masing–masing wilayah atau desa tersebut memiliki kisah dan cerita yang berbeda-beda antara desa yang satu dengan desa yang lainnya, oleh sebab itu kita harus menghormati perbedaan-perbedaan diantara masing-masing desa tersebut dan harus memahami segala perbedaan yang ada agar tidak ada kesenjangan sosial diantara desa tersebut.

Saat ini saya akan menceritakan awal kisah terbentuknya desa “BANYUAJUH”  yang berada di kecamatan Kamal – Bangkalan – Madura. Desa ini memiliki banyak penduduk  kurang lebih sekitar 8400 jiwa.

Asal mula dari desa Banyuajuh berasal dari kata “Banyu” dan  “Ayu”. Dalam Bahasa madura dapat diartikan  “Aeng Raddin”. Jika di artikan dalam bahasa Indonesia yaitu air yang jernih, bersih dan juga enak di pandang oleh mata. Dimana, awal dari terbentuknya desa Banyuajuh itu adalah sebuah desa yang memiliki seorang tokoh ulama yang besar yang bernama KH.ABD MUFID.  Ulama ini berasal dari desa kwanyar,  Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan. Akan tetapi tidak ada yang tahu pasti tanggal berapa tepatnya beliau dilahirkan di desa tersebut. Baca lebih lanjut

Asal Usul Upacara Nyadar (Nyedher)

Kontributor: Santi Nikethan

Madura merupakan pulau yang terletak di sebelah timur pulau Jawa dan masih termasuk kawasan di daerah Jawa Timur yang mempunyai beraneka ragam budaya begitu indah. Madura juga memiliki empat kabupaten yaitu Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan, dan Kabupaten Sumenep. Kali ini saya akan mengambil salah satu budaya yang di miliki Madura yang terletak di Kabupaten Sumenep tepatnya di desa Pinggir, Papas. Kita harus menempuh perjalanan selama empat jam dari Kabupaten Bangkalan menuju Kabupaten Sumenep. Budaya yang saya ambil kali ini ialah upacara Nyadar atau lebih di kenal dengan nyedher.

 Diceritakan pada zaman dahulu kala tepatnya di zaman pertengahan datanglah seorang mubaligh yang bernama Syekh Angga Suto tetapi masyarakat Sumenep lebih mengenalnya dengan sebutan Mbah Anggasuto. Menurut cerita yang ada beliau berasal dari Cirebon, Jawa Barat tetapi sebelumnya di kabarkan berasal dari negara Arab. Sebenarnya tujuan dari beliau ke Sumenep adalah untuk menyebarkan agama Islam, tetapi pada saat perjalanan menuju ke Timur, beliau melewati jembatan rantai, lalu menuju ke Selatan dan sampailah beliau di suatu pantai dekat Sumenep yaitu di desa Pinggir, Papas. Saat pantai itu mengalami air surut, ia melihat jejak kaki di sekitar pantai tersebut. Lalu beberapa hari kemudian ia kembali lagi dan melihat didalam bekas jejak kaki tersebut terdapat gumpalan garam. Dari peristiwa yang dilihat oleh Syekh Angga Suto tersebut, beliau berinisiatif untuk mengajari para penduduk di desa Pinggir Papas mengenai cara membuat garam. Akhirnya, dari peristiwa tersebut para penduduk mempunyai kebiasaan untuk membuat garam. Sehingga daerah tersebut terkenal sebagai penghasil garam. Baca lebih lanjut

Vihara Avalokitesvara

Kontributor: Putri

Pada awal abad ke-16 terdapat sebuah kerajaan di daerah Pamekasan,tepatnya di daerah Proppo,yaitu daerah sebelah barat Pamekasan.Kerajaan tersebut bernama Kerajaan Jambringin.Di kerajaan tersebut tinggallah seorang raja keturunan dari Kerajaan Majapahit.Kerajaan tersebut juga merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit.

Pada suatu hari raja-raja Jambringin dan Majapahit berkumpul.Mereka berencana untuk membangun sebuah candi yang akan digunakan untuk beribadah.Rencananya candi tersebut akan dibangun di sebuah daerah,tepatnya di daerah Gayam,daerah tersebut berada kurang lebih dua kilometer ke arah timur dari Keraton Jambringin.

Keesokan harinya raja  Jambringin memerintahkan untuk mendatangkan perlengkapan-perlengkapan untuk membangun candi seperti batu bata,pasir,dll.Raja juga memerintahkan untuk mendatangkan patung-patung dan perlengkapan untuk beribadah. Baca lebih lanjut

Asal Muasal Nama Desa Paseraman, Kamal

Kontributor: Novita

Pada zaman dahulu kala, berdiri sebuah kerajaan di pulau Madura (sekitar Pamekasan, Madura). Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja yang sangat dihormati dan dicintai oleh rakyatnya. Selama pemerintahan sang raja, rakyat hidup tentram dan sejahtera. Hasil panen, air, dan perekonomian berjalan dengan lancar. Sang raja memiliki seorang putri yang sangat dicintainya. Sang putri sangat cantik dan baik hati, semua rakyat menyukainya dan mengaguminya. Banyak pangeran dari kerajaan lain yang ingin meminangnya, namun sang putri menolak dan memilih untuk dinikahan dengan seorang pemuda petani miskin yang merupakan salah satu rakyatnya. Namun, sang raja menentang pilihan sang putri dan menolak untuk menikahkan putri semata wayangnya dengan seorang petani miskin itu.

Mengetahui hal itu, si petani miskin memutuskan untuk meninggalkan kerajaan tersebut dan pergi ke daerah lain. Sang putri pun sangat cemas dan merindukan si petani miskin yang dicintainya itu. Berbulan – bulan ia menunggu kedatangan si petani, namu ia tak kunjung kembali ke kerajaan. Akhirnya sang putri berhenti menunggu si petani dan memutuskan untuk menerima tawaran ayahnya untuk menikah dengan pangeran dari kerajaan lain. Baca lebih lanjut

Legenda Pedeng

Kontributor: Nikmatus S

Pada saat sekitar tahun 1970, di desa Langkap kecamatan Burneh kedatangan seorang laki-laki dari daerah seberang bernama Sulut. Dia adalah seorang pengembara yang beragama non muslim, setelah beberapa lama ia mengembara, akhirnya dia sampai di pulau Madura. Tetapi, setelah dia datang di pulau Madura dia masih harus mencari letak desa Langkap kecamatan Burneh, dia pun mencari keberadaan desa Langkap kecamatan Burneh.

Setelah beberapa hari dia berkelana untuk mencari desa Langkap kecamatan, akhirnya dia pun menemukannya. Kemudian setelah sesampainya dia di desa Langkap kecamatan Burneh, dia memutuskan untuk beristirahat semalam untuk melepaskan lelahnya, setelah dia berkelana kesana dan kemari untuk mencari desa Langkap kecamatan Burneh yang terletak di pulau Madura. Ke esokan harinya, setelah dia beristirahat, dia mencari rumah kepala desa Langkap kecamatan Burneh, seperti tujuan awalnya untuk datang ke pulau Madura yaitu ke desa Langkap kecamatan Burneh. Baca lebih lanjut