Asal Usul Upacara Nyadar (Nyedher)

Kontributor: Santi Nikethan

Madura merupakan pulau yang terletak di sebelah timur pulau Jawa dan masih termasuk kawasan di daerah Jawa Timur yang mempunyai beraneka ragam budaya begitu indah. Madura juga memiliki empat kabupaten yaitu Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan, dan Kabupaten Sumenep. Kali ini saya akan mengambil salah satu budaya yang di miliki Madura yang terletak di Kabupaten Sumenep tepatnya di desa Pinggir, Papas. Kita harus menempuh perjalanan selama empat jam dari Kabupaten Bangkalan menuju Kabupaten Sumenep. Budaya yang saya ambil kali ini ialah upacara Nyadar atau lebih di kenal dengan nyedher.

 Diceritakan pada zaman dahulu kala tepatnya di zaman pertengahan datanglah seorang mubaligh yang bernama Syekh Angga Suto tetapi masyarakat Sumenep lebih mengenalnya dengan sebutan Mbah Anggasuto. Menurut cerita yang ada beliau berasal dari Cirebon, Jawa Barat tetapi sebelumnya di kabarkan berasal dari negara Arab. Sebenarnya tujuan dari beliau ke Sumenep adalah untuk menyebarkan agama Islam, tetapi pada saat perjalanan menuju ke Timur, beliau melewati jembatan rantai, lalu menuju ke Selatan dan sampailah beliau di suatu pantai dekat Sumenep yaitu di desa Pinggir, Papas. Saat pantai itu mengalami air surut, ia melihat jejak kaki di sekitar pantai tersebut. Lalu beberapa hari kemudian ia kembali lagi dan melihat didalam bekas jejak kaki tersebut terdapat gumpalan garam. Dari peristiwa yang dilihat oleh Syekh Angga Suto tersebut, beliau berinisiatif untuk mengajari para penduduk di desa Pinggir Papas mengenai cara membuat garam. Akhirnya, dari peristiwa tersebut para penduduk mempunyai kebiasaan untuk membuat garam. Sehingga daerah tersebut terkenal sebagai penghasil garam. Baca lebih lanjut

Carok: Apa dan Mengapa

Pendahuluan

Pulau Madura terletak di timur laut pulau jawa.Pulau ini memiliki reputasi luas sebagai wilayah yang penuh kekerasan dan kekejaman.Di pulau ini konon kehidupan tidaklah aman, karna setiap masalah selalu diselesaikan dengan kekerasan. Penduduk Madura juga mempunyai sifat mudah marah tidak tau tata karna tidak terkendali,dan tidak beradab. Tetapi disisi lain Masyarakat Madura juga mempunyai sisi yang pantas kita sanjung yaitu berani, terpercaya, setia, rajin, hemat, ceria, dan penuh semangat. Tetapi tidak semua masyarakat Madura seperti itu.Karna sperti sekarang ini pulau Madura juga telah didominasi oleh orang jawa.

Tidak selamanya apa yang kita fikirkan tentang orang Madura itu benar. Mungkin hanya beberapa orang saja.Karna semua itu tergantung individunya masing masing. Disisi lain zaman sudah berganti. Tidak seperti dahulu lagi.Tetapi masih ada juga yang terbawa hingga saat ini.Contonya carok.Bukankah masyarakat Madura terkenal budaya caroknya??

Orang madura memiliki semboyan yaitu angok pote tolang atembang pote mata ( lebih baik putih tulang dari pada putih mata ).Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata) yaitu tindakan menolong diri sendiri dengan cara kekerasan di kalangan orang madura. orang Madura lebih keras dan bisa melakukan kekerasan terhadap orang yang di rasa telah menginjak harga dirinya dengan akhir pertarungan (carok)  karna carok sebagai solusi bagi orang Madura sebagai media untuk mempertahankan harga diri dan kehormatan,kalau berkenaan dengan harga diri dan kehormatan orang Madura sangat sulit untuk terlalu lama bernegosiasi oleh karna itu yang di pegang teguh adalah semboyan angok pote tolang katembeng pote mata.

Carok dalam bahasa Kawi kuno artinya perkelahian.Biasanya melibatkan dua orang atau dua keluarga besar.Bahkan antarpenduduk sebuah desa.Pemicu dari carok ini berupa perebutan kedudukan di keraton, perselingkuhan, rebutan tanah, bisa juga dendam turun-temurun selama bertahun tahun.Carok termasuk kejahatan yang bertanggung jawab, karna ada sebab dan akibat yang ditimbulkannya.

Awalnya pada abad ke-12 M, zaman kerajaan Madura saat dipimpin Prabu Cakraningrat dan abad 14 di bawah pemerintahan Joko Tole, istilah carok belum dikenal. Bahkan pada masa pemerintahan Penembahan Semolo, putra dari Bindara Saud putra Sunan Kudus di abad ke-17 M tidak ada istilah carok.Munculnya budaya carok di pulau Madura bermula pada zaman penjajahan Belanda, yaitu pada abad ke-18 M hingga menjadi Tradisi di Pulau Madura.Setelah Pak Sakerah tertangkap dan dihukum gantung di Pasuruan, orang- orang di Jawa Timur mulai berani melakukan perlawanan pada Belanda. Senjatanya adalah celurit.Saat itulah timbul keberanian melakukan perlawanan.Namun, pada masa itu mereka tidak menyadari kalau pelawanan tersebut dihasut oleh Belanda.

Tradisi warisan leluhur mereka diadu dengan golongan keluarga Blater (jagoan) yang menjadi kaki tangan penjajah Belanda, yang juga sesama bangsa.Karena provokasi Belanda itulah, golongan blater yang seringkali melakukan carok pada masa itu. Pada saat carok mereka tidak menggunakan senjata pedang atau keris sebagaimana yang dilakukan masyarakat Madura zaman dahulu, akan tetapi menggunakan celurit sebagai senjata andalannya.

Senjata celurit ini sengaja diberikan Belanda kepada kaum blater dengan tujuan merusak citra Pak Sakera sebagai pemilik sah senjata tersebut. Karena beliau adalah seorang pemberontak dari kalangan santri dan seorang muslim yang taat menjalankan agama Islam.

Celurit digunakan Sakera sebagai simbol perlawanan rakyat jelata terhadap penjajah Belanda.Sedangkan bagi Belanda, celurit disimbolkan sebagai senjata para jagoan dan penjahat.Upaya Belanda tersebut rupanya berhasil merasuki sebagian masyarakat Madura dan menjadi filosofi hidupnya, bahwa bila ada persoalan, perselingkuhan, perebutan tanah, dan sebagainya selalu menggunakan kebijakan dengan jalan carok.Alasannya adalah demi menjunjung harga diri, Istilah khas nya di Jawa Timur dan Madura, “daripada putih mata lebih baik putih tulang” artinya, “lebih baik mati berkalang tanah daripada menanggung malu”.Maka tidak heran jika terjadi persoalan perselingkuhan dan perebutan tanah di Madura maupun pada keturunan orang Madura di Jawa dan Kalimantan selalu diselesaikan dengan jalan carok perorangan maupunsecara massal.Senjata yang digunakan selalu celurit.Begitu pula saat melakukan aksi kejahatan, juga menggunakan celurit. Kondisi semacam itu akhirnya memasyarakat bagi para keturunan orang Jawa Timur dan Madura di Jawa Timur, di Kalimantan, di Sumatra, di Irian Jaya, di Sulawesi mengecap orang Madura suka carok, suka kasar, sok jagoan, bersuara keras, suka cerai, tidak tahu sopan santun, dan kalau membunuh orang menggunakan celurit. Padahal sebenarnya tidak semua masyarakat Madura demikian.Inilah akibat dari Warisan kolonial Belanda.

Sesungguhnya masyarakat Madura memiliki sikap halus, tahu sopan santun, berkata lembut, tidak suka bercerai, tidak suka bertengkar, tanpa menggunakan senjata celurit, dan sebagainya adalah dari kalangan masyarakat santri, Leluhur mereka bertujuan melawan kolonial penjajahan Belanda di Tanah Jawa Timur dan Pulau Madura. Setelah sekian tahun penjajah Belanda meninggalkan pulau Madura, budaya carok yang selalu menggunakan celurit untuk menghabisi lawannya masih tetap ada, baik itu di Bangkalan, Sampang, maupun Pamekasan.Mereka mengira budaya tersebut hasil ciptaan leluhurnya, tidak menyadari bahwa sesungguhnya adalah Warisan Kolonial Belanda hasil rekayasa Kolonial Belanda.

Perbedaan Carok dan Amuk

Dalam berbagai kamus amuk berasal dari sebuah kosakata Melayu, sering diuraikan sebagai “MENYERANG DENGAN MEMBABI BUTA”, “MENJADI MURKA ATAU LIAR” atau “BERKELIARAN KESETANAN DAN HAUS DARAH”. Individu yang mengamuk didefinisikan sebagai seseorang yang ingin membunuh setiap orang yang ditemuinya.Amuk yang kita ketahui adalah keadaan fisik atau mental yang memiliki beberapa tampilan dan penyebab.

Orang non Madura sering membandingkan carok dengan amuk. Dalam kasus carok maupun amuk, individu yang murka atau kesetanan berusaha membunuh sesamanya dengan cara yang mengerikan dan gelap mata. Namun dalam carok kasusnya menyangkut ‘kemurkaan yang terkendali’.Sementara kejadian amuk ‘kemurkaan yang tidak terkendali’. Disini kami akan menguraikan tentang perbedaan antara carok dan amuk.

  1. Carok biasanya ditujukan pada individu tertentu (jelas). Atau bisa dibilang tidak pilih pilih bulu. Orang dan kesalahannya jelas. Sedangkan amuk ditujukan pada orang yang ada disekitarnya. Atau bisa dibilang tidakan tanpa pandang bulu. Mengamuk pada orang yang ada disekitarnya, meskipun orang yang diamuk tidak bersalah.
  2. Carok dilakukan oleh laki laki yang masih sehat dalam fikirannya. Sedangkan amuk dilakukan oleh laki laki yang mengalami gangguan kejiwaan atau yang fikirannya tidak sehat.
  3. Orang Madura dizaman dahulu biasanya menggunakan celurit, pisau ataupun dengan linggis. Berbeda dengan sekarang ini yang menggunakan peralatan modern seperti pistol, bedil dll. Tetapi ada juga orang Madura yang sampai saat ini masih menggunakan celurit. Karna celurit mendominasi kemaduraannya.
  4. Pada umumnya jika carok dilakukan, pelakunya akan masuk penjara. Berbeda dengan amuk, jika amuk pelakunya akan masuk rumah sakit jiwa.
  5. Orang yang melakukan carok dilandasi dengan rasa dendam. Sedangkan orang yang mengamuk tidak dengan rasa dendam
  6. Carok dan otoritas pusat mempunyai hubugan tersendiri. Hubungannya antara laintindakan mainhakim sendiri dan menaruh kepercayaan pada otoritas pusat.Main hakim sendiri adalah tindakanmenolong diri sendiri. Bagaimana suatu individu mengandalkan sarana sendiri untuk bertahan,melindungi, dan menyerang lawan. Menolong diri sendiri menyiratkan bahwa individu tersebutmenjaga kepentingannya sendiri, dan bukan mempercayakannya pada lembaga kemasyarakatan yanglebih tinggi.

Simpulan

Dari hasil pembahasan makalah diatas tentang ‘lebih baik putih tulang dari pada putih mata’ kami menyimpulkan bahwa mksud dari lebih baik putih tulang daripada putih mata yaitu lebih baik mati daripada menanggung malu, orang Madura tidak suka jika harga diri mereka di injak-injak, maka dari itulah banyak perkelahian yang disebut carok, dan carok ini sebenarnya bukanlah tradisi tetapi bersikap individual.