Sejarah Desa Beluk Raja

Kontributor: Lukas

Pada suatu hari hidup seorang suami istri, yang rumahnya dekat dengan bambu. Dan sebelahnya ada perjalanan air yang amat kecil dari sumber mata air yang di namakan hulu. Air yang mengalir amat kecil dari sumbernya penyebab kecilnya air karena ketutupan sesuatu barang yang amat besar yang dicari oleh masyarakat amat susah. Masyarakat desa tersebut kalau memasuki wilayah tersebut pasti kerasukan roh halus, yang cuman berani masuk wilayah tersebut adalah Ibu Sitti Hawa dan Bapak Agung Abdullah. Mereka adalah pasangan suami istri yang berani masuk wilayah yang amat angker itu.

Pasangan suami istri itu juga membangun rumah di dekat wilayah yang angker itu. Banyak masyarakat yang membincangkan pasangan suami istri itu karena di anggap oleh masyarakat desa itu  di sangka orang yang tidak waras. Desa itu menganggap orang yang hidup di tengah wilayah yang angker mereka hanya untuk mencari mati karena ke banyakan desa yang cuman lewat di tempat itu mereka langsung pingsan dan ngomong sendirian. Dan orang yang kena kerasukan itu pasti ngomongnya selalu minta sesajin apalagi ketika malam jumat keliwon.

Masyarakat tersebut mempercayai kalau malam jumat kliwon yang dipercayai kalau jumat kliwon itu malam jumat manis yang ke banyakan setan berkeliaran di tempat tersebut. Akan tetapi anehnya pasangan suami istri pada malam jumat kliwon pasangan suami istri itu tidak kenapa-kenapa malahan mereka baik-baik saja. Padahal banyak ke anehan yang di lihat masyarakat itu dari jarak jauh mereka melihat seperti orang yang sedang minta tolong karena masyarakat itu tidak ada yang berani lalu mereka menghiraukannya.

Waktu terus berjalan pasangan suami istri membersihkan tempat itu karena di lihat terlalu banyak pohon yang kecil semakin tumbuh dan membesar. Lalu mereka memotongnya untuk di buat jalan yang menurut mereka nyaman akan tetapi mereka juga minta ijin kepada Bapak Isnin yang punya tanah itu. Bapak Isnin juga mengijinkan kepada bapak Agung untuk di buat jalan para warga juga membantu pembuatan jalan. Sebelum dibuat jalan masyarakat di tuntut untuk mengaji dulu biar penghuni tempat itu mengasih ijin dan tidak terjadi yang tidak diinginkan dan masyarakat juga membawa makanan, gorengan dan kopi, karena masyarakat di desa kalau tetangga sedang mempunyai pekerjaan mereka langsung berdatangan untuk membantunya. Tidak lama kemudian jalan yang di buat oleh Bapak Agung cepat selesai dan bisa langsung di pakai.

Lambat laun masyarakat mulai mendekati Bapak Agung dengan menyuruh anaknya mengaji kepada Bapak Agung dan di antar oleh orang tuanya. Kalau orang tua menyuruh anak ngaji  kepada Bapak Agung para orang tua tidak tinggal diam dan para orang tua juga membawa beras 3 kg, ikan dan sarung yang di kasih kepada Bapak Agung. Orang yang pertama kali ngaji kepada Bapak Agung adalah Sukar yang murid pertama beliau. Tidak lama kemudian banyak masyarakat yang mengikuti  untuk menyuruh anaknya ngaji juga.

Semakin lama murid-murid Bapak Agung yang ikut mengaji semakin bertambah banyak dan Bapak Agung sangat senang karena beliau bisa menularkan ilmu mengajinya kepada orang-orang lain yang ada disekitar desa tersebut. Setiap hari kegiatan mengaji di desa tersebut tidak pernah berhenti dan malah menyebar luas sampai desa-desa sekitarnya, karena Bapak Agung merasa dirinya telah tidak mampu mengajarkan mengaji kepada murid-muridnya yang semakin hari semakin bertambah maka Bapak Agung menunjuk Sukar yaitu murid pertamanya untuk membantu beliau dalam mengajarkan mengaji kepada murid-murid yang lainnya sehingga Bapak Agung tidak merasa kuwalahan lagi. Dengan dibantu Sukar maka tugas Bapak Agung agak sedikit mudah dalam mengajarkan ngaji kepada murid-muridnya.

Sukar adalah sebuah santri atau murid pertama dari Bapak Agung yang baik, penurut, dan tidak banyak omong dan ilmu ngajinya pun sudah bisa dibilang cukup untuk diajarkan kepada santri-santri laiinya. Sukar jika dimintai tolong apapun oleh Bapak Agung, dia tidak pernah menolak, dia selalu melaksanakan apa saja yang dipertahkan Bapak Agung kepadanya sampai sampai Bapak Agung menganggap Sukar seperti anaknya sendiri. Pak Agung dan Sukar selalu mengajarkan mengaji dengan sebaik-baiknya maka itulah yang membuat mereka dikenal oleh orang banyak. Beberapa tahun sudah berlalu dan merekapun mencari 4 santri untuk dijadikan sebagai guru ngaji ditempat tersebut. Setelah mereka menemukan keempat santri yang akan dijadikan guru ngaji, mereka terlebih dahulu dibekali tata cara mengajarkan mengaji kepada murid-muridnya nanti, sehingga kedepan mereka tidak akan kebingungan lagi. Karena aktivitas mengaji ditempat tersebut maka lambat laun desa tersebut mulai terjamah oleh banyak orang dari berbagai desa dan tidak menjadi sebuah desa yng angker seperti dahulu yang pernah diceritakan oleh orang-orang disekitar.

Karena kegigihan Bapak Agung, Sukar dan keempat santri barunya tersebut maka desa tersebut terkenal dengan desa yang menghasilkan santri-santri yang baik dan berkualitas. Setelahnya desa tersebut menjadi desa yang besar dan sangat terkenal pada saat itu. Karena berkat jasa dari Bu Sitti, Bapak Agung, Bapak Isnin, Sukar, 4 santri tersebut maka desa tersebut diberi nama sebuah desa Beluk Raja yang berarti mempunyai arti delapan raja karena ada delapan orang yang berjasa dalam membangun sebuah desa yang dulunya angker yang ditakuti banyak orang dan kini menjadi sebuah desa yang tidak angker lagi serta banyak menghasilkan santri-santri yang berkualitas. Maka sejak itu dan sampai sekarang nama desa tersebut adalah Desa Beluk Raja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s